Translate

Senin, 06 Oktober 2014

Ikan Patin Bakar dalam Bambu di Sentul City, Bogor


Selepas beli asinan Bogor, kami lanjut ke Sentul City. Kali ini tujuannya bukan ke Taman Budaya atau Pasar Apung, melainkan hendak menikmati lezatnya Ikan Patin yang dibakar dalam bambu. Seperti apa itu? Kami tahunya kan Ayam dalam Bambu, menu andalannya Rumah Makan Ciganea, Garut. Nah, yang ini bagaimana?

Sebelum saya jawab, mari simak dulu bagaimana caranya ke Rumah Makan Karimata yang menjual menu spesial tersebut. Kalau dari arah Jakarta, masuklah ke Tol Jagorawi. Lalu nanti keluar di exit Sentul City. Adanya setelah exit Bukit Sentul, sekitar 500 meter setelah rest area Sentul. Plang tol nya bertuliskan: "Kedung Halang, Tol lingkar Luar Bogor, Sentul City". Nah, begitu keluar dari pintu tol itu, ketemu pertigaan, beloklah ke kanan. Buka mata, jalan pelan-pelan. Tengok ke kiri ada billboard besar bertuliskan Rumah Makan Karimata.

Letaknya persis di pinggir jalan. Ada jalan kecil tidak beraspal, persis di pertigaan (kalau lurus ke Tol Lingkar Luar Bogor, kalau kanan ke Tol Jagorawi arah Jakarta/ Pintu Tol Sentul Selatan 2). Nah, masuk deh ke jalan tanah itu, nanti di pojok jalan kecil itu ada jalan menurun. Itulah dia tempat parkir mobil Restoran Karimata - Ikan Bakar dalam Bambu. Tak usah ragu. Silakan masuk dan pesan.


Pesan apa? Ya, tentu saja Ikan Patin Bakar dalam Bambu. Harganya Rp 120 ribu per porsi (belum termasuk pajak 10%). Wow,..lumayan mahal juga ya? Tapi tidak perlu kuatir. Itu ikannya cukup besar kok. Cukup untuk 4 orang. Bahkan kalau bukan penggemar ikan dan makan ikannya cuma sedikit, ber 5 orang juga cukup saya rasa. Rasa ikan patinnya enak sekali.Lumayan pedas. Tapi agak manis juga. Bumbunya mirip-mirip rendang. Dipadu dengan nasi putih hangat (Rp 5 ribu), jadinya muanttabb rekk!

Ikan Bakar dalam Bambu "Karimata" Sentul City, Bogor

Restoran Karimata menyajikan Ikan Bakar dalam Bambu

Pemandangan indah dari Rumah Makan Karimata, Sentul City, Bogor

Alamat Ikan Bakar dalam Bambu “Karimata”
Depan Pintu Tol Sentul Selatan 2, Grand Sentul City, Bogor
Telpon: 02513686976 / 085782887745
Jam Buka: Selasa – Minggu jam 10:00 – 21:00. Hari Senin Libur

Wisata Keluarga di Alam Peternakan di Kuntum Farm Field Bogor


Saya mau cerita pengalaman wisata ke Kuntum Farm Field. Barangkali Anda berencana mau ke sana ya? Dan pengen tahu ada apa saja di sana.

Begini lho, sekarang ini...anak-anak di kota besar terutama Jakarta jarang sekali berinteraksi dengan alam. Soalnya di mana-mana rumah, gedung, dan beton pencakar langit. Pekarangan pada sempit-sempit semua. Pohon-pohon jarang apalagi binatang-binatang. Jangankan keanekaragaman hayati, lihat ayam saja ada anak-anak yang belum pernah lihat. Tahunya ayam Kentucky doang. Kalau yang masih hidup dan berkeliaran serta berkokok, cuma tahu dari dongeng doang. Makan ayam sih sering, liatnya jarang.

Maka daripada itulah, banyak orang tua dan para pendidik yang ingin mengenalkan anak kecil dengan kehidupan alami flora dan fauna. Kemaren waktu jambore, TK nya anak saya sudah main tuh di Tempat Wisata Alam Pasir Mukti, Kabupaten Bogor. Belajar menanam padi dan naik sapi, membajak sawah. Nah, sekarang gilirannya wisata ranch alias peternakan. Letaknya masih di Bogor juga, tapi kali ini Bogor Kota. Dekat dengan pusat tas dan fashion, di Jalan Tajur.

Kalau mau gampang (belok-beloknya sedikit), maka dari Jalan Tol Jagorawi keluarlah di exit paling ujung: Gerbang Ciawi. Nah, ikuti jalan, nanti di depan ketemu lampu merah. Harusnya belok kanan, tapi terkadang lalu lintas diarahkan Pak polisi (guna menghindari macet) untuk lurus dulu kemudian putar balik, lalu belok kiri. Nah itulah dia Jalan Tajur.

Lurus saja di jalan ini dan lihat-lihat sebelah kanan. Tidak seberapa jauh, nanti terlihatlah plang yang cukup besar bertuliskan: Kuntum Farm Field. Nyeberanglah di situ dan masuk ke jalan itu, dan masuk deh ke gerbangnya. Lurus saja, bayar tiketnya nanti di depan (Rp 25 ribu per orang). Parkir di depan bangunan di kiri, pas sebelum portal masuk ke perumahan Teras Hijau Residence - perumahan berkonsep alami yang sepertinya juga dimiliki oleh pemilik tempat wisata Kuntum ini.




Cara ke Kuntum Farm Field

Masuk ke Kuntum Farm Field

Perumahan berkonsep alami: Teras Hijau Residence, bersebelahan dengan Kuntum Farm Field, Bogor

Bisa ngapain aja di Kuntum Farm Field ini?

Nah, di sini, kemarin itu, anak-anak TK riang gembira memberi makan sapi, kambing, kelinci dan marmut (satu bakul rumput atau dedaunan Rp 5ribu). Anak-anak kambing juga diberi minum susu pakai dot (Rp 5 ribu per botol). Lahap sekali kambingnya minum susu. Ada juga kambing kecil yang dilepas berkeliaran. Anak-anak senang megangnya dan main lari-larian dengan si "Shaun the Sheep" itu.

Asinan Bogor Gedung Dalam, Krosnat, Lapis Talas dan Roti Unyil

Hari Kamis kemarin kami sekeluarga liburan ke Bogor. Ya, hari Kamis..bukan weekend. Bukan pula demi menghindari wacana peraturan mobil Jakarta tidak boleh masuk Bogor di hari Sabtu/Minggu. Melainkan memang karena di hari itu rombongan TK anak saya sedang ber-study tour.

Ceritanya nih, hendak mengenalkan anak-anak dengan alam dan kegiatan pedesaan. Di sana, di Kuntum Farm Field mereka bisa bermain bersama hewan ternak, memberi makan sapi, memberi susu kepada kambing, menangkap ikan, bermain dengan kelinci, dan memberi makan ayam serta bebek. Asyik…! Menyambung tempat wisata alam pedesaan sebelumnya: TWA Pasir Mukti di Bogor, di mana waktu itu mereka bermain di sawah, menanam padi, membajak sawah dan naik kerbau.

Nah, karena lokasi Kuntum Farm Field ini di Jalan Tajur, dekat sekali dengan sentra kerajinan tas Bogor, maka selepas acara, jam 12, para guru dan mommies pun segera meluncur ke SKI Tajur, pabrik dan sentra penjualan beragam tas fashion wanita. Asyikk...tapi kami kala itu memilih untuk memisahkan diri dari rombongan dan malahan meluncur ke kota, bikin petualangan sendiri.

Enak brow kalau lagi weekdays...jalanan Kota Bogor lancar jaya. Mengintip sedikit di internet, apa kuliner yang khas Bogor. Tentu saja: Asinan. Tapi di mana dan yang mana yang paling enak?

Yang legendaris ternyata Asinan Sedap Gedung Dalam. Letaknya di Jalan Siliwangi. Dari Jalan Tajur sebetulnya tinggal lurus saja ke arah kota. Ketemu bundaran tinggal lurus masuk ke Jalan Siliwangi. Sebetulnya tinggal lurus saja lagi, tapi forboden karena ini jalan satu arah. Jadi musti muter-muter dulu. Terpaksa belok kiri, masuk jalan satu arah (Jalan Lawang Gintung) Terus saja ikuti jalannya. Kalau ada belokan, ambil belokan kanan. Masuk ke Jalan Batu Tulis. Ini jalanan melingkar. Jadi nanti ketemu lagi dengan Jalan Siliwangi. Nah, ambil lajur kiri dan buka mata. Ada bangunan ruko lama yang sudah tua dan cenderung kusam dengan kios-kios kaki lima semi permanen di depannya menutupi ruko. Maka harus buka mata, cari tulisan Asinan Sedap Gedung Dalam. Kalau sudah ketemu, masuk deh ke area ruko itu dan parkir.

Kami beli dua macam: asinan sayur dan asinan buah. Sudah dibungkus-bungkusin. Tinggal bawa pulang, karena mereka memang tidak menyediakan dine-in (makan di tempat). Semua take away. Harganya tergolong premium, yaitu Rp 20 ribu per bungkus (sebagai perbandingan, Asinan Betawi di dekat rumah kami cuma Rp 8 ribu), tapi ternyata rasanya memang enak sekali lho!

Kuahnya itu lho, pas banget asin, asam, pedas, dan manisnya. Menurut saya malah cenderung asam/manis. Cocok dengan saya yang suka asam, tapi kurang suka pedas. Jadi, kalau mau lebih pedas tinggal tambahkan sambalnya, (dibungkus terpisah).

Berbeda dengan Rujak Juhi Betawi yang pakai irisan cumi asin, sayur selada, toge, kacang dan kerupuk merah, maka Asinan Bogor cuma pakai sayur kol, tahu,kacang serta pakai irisan daun yang "aneh". Kata istri saya ini daun ketumbar. Nah, daun ini memberi aroma dan rasa yang unik. Bikin sedap, kata istri saya.

Yang bikin beda juga, adalah acar. Kalau asinan Betawi tidak pakai acar, nah..Asinan Gedung Dalam ini dilengkapi dengan Acar Ganda (bawang muda)), acar lobak, dan acar timun. Jadinya tambah mantab. Saya makan sampai ludes semua kuah-kuahnya. Sampai titik air penghabisan.

Asinan Bogor Legendaris: Asinan Sedap Gedung Dalam 


Kamis, 04 September 2014

Nasi Goreng Merah di Mie Besak Pasar Kuto, Palembang


Pada bosen makan pempek nih?
Haha...istri saya begitu. Beliau sampai bingung, pas libur kemarin di mana-mana tiap hari makan pempek. Pagi, siang, sore, malam.

Memang begitulah adanya kalau lagi di Palembang. Cuma beda rupa-rupa aja. Ada "pempek" berkuah santan, namanya Celimpungan dan Laksan. Ada pempek digoreng terus pakai kuah udang, disebutnya Model. Kalau yg rebus dan kecil-kecil pakai kuah udang juga, namanya Tekwan. Not to mention, pempek in regular shape as people know: Kapal Selam, Lenjer, Adaan.

Dan yang jual, bukan cuma 1 - 2 orang lho. Tapi banyak sekali.
Contohnya di dekat rumah kami, di Plaju. Di penggal 1 km itu ada puluhan penjual pempek. Hampir tiap 100 meter ada yang jual. Berupa warung ataupun gerobak. Ada Apy, Vico, Akiun, Flamboyan, Sentosa, Paforit, dan lain-lain yang tak bermerk. Benar-benar Kota Sejuta Pempek.

Wow...amazing! dan bikin klenger-blenger istri saya. Hehehe.

Hingga suatu sore ia bilang, “Gimana kalau kita makan yg lain aja yu! Selain pempek."

“Oks, ayo kita makan pindang!”

“Oh no! Not again...,” said my wife.

Sebabnya, Palembang juga Kota Sejuta Pindang. Hehe. Ada Pindang Baung (ini yang paling umum), Pindang Udang, dan Pindang Tulang. Dan yang jual juga banyak dengan beragam variasi. Sebut saja Pindang Meranjat (pakai terasi), Pindang Kuyung (khas Sekayu), Pindang Sopia (pakai udang satang besar-besar), Pindang Musi Rawas, Pindang Sekanak, dan Pindang Pondok Kelapa.

“Yang lain selain pempek dan pindang”, kata istri saya.
“Dan juga bukan Martabak HAR”, ujarnya segera. Lugas mendahului sebelum saya sempat menjawab demikian.

Maka bingunglah anak mudo...

Memang ada Roti Komplit, Bakmi Bangka, dan lain-lain, tapi secara stereotip, khasnya Palembang ya tiga macam kuliner tadi itu.

Hmmm... Untunglah ada Ridho, tour guide kami yg ikut dengar dan kasih rekomendasi,
"Makan Mie Besak bae, Kak!"

“Oww... Apa tuh?”

“Hmmm… Oke deh... (whatever it is), ayo kita ke sana!”

Letaknya di depan Pasar Kuto, di Jalan Segaran. Itu lho...pasar lama yang terkenal sebagai tempat jual duren. Di depan pasarnya, ada pertigaan. Nah, pas pertigaan itu ada warung kopi terkenal: H. Anang. Meski buka 24 jam, tapi lebih ramai yang datang pas sarapan pagi-pagi . Ada Celimpungan, Bubur Ayam, Burgo, Laksan, dan kue-kue tradisional Palembang (Kumbu Kacang Merah, Kumbu Kacang Hijau, Kojo, Engkak Ketan, dan lain-lain).

Nah, Mie Besak ini posisinya juga di dekat pertigaan itu, di sebelah Indomaret. Bangunan sangat sederhana, semi permanen dari kayu, bersebelahan dengan toko bikin gigi “Maju Jaya” dan Lorong Kebangkan. Gampang dikenali dari aroma harum masakan yang menyeruak tercium dari jauh, sampai ke pertigaan jalan tadi. Sebabnya, mereka masaknya di luar, di depan warungnya. Ada empat kuali. Dua kuali masak bumbu, yang lain masak nasi goreng, dan yang satu lagi mie besak.

Selasa, 19 Agustus 2014

Nasi Goreng Enak di Seputar Cempaka Putih, Pulo Mas dan Rawasari


Nah, ini dia tempat makan nasi goreng pas jaman pacaran dulu: Nasi Goreng Mangkok. Warungnya kaki lima tapi rasa bintang lima. Lezaattooo...

Sttt...sebenarnya sih di kitaran Cempaka Putih sini ada 3 tempat makan legendaris lokasi kami kencan dulu... Hehehe *blushing_jadi_malu, yaitu : Sate Kambing Pak Ali, Bebek Kaleyo, dan satu lagi ya Nasi Goreng Mangkok ini. Ketiganya sampai sekarang masih eksis. Bahkan Bebek Kaleyo makin berkibar, cabangnya ada di mana-mana. Saking larisnya, Bebek Kaleyo berani mengklaim sebagai warung bebek paling ramai se-Indonesia... Oyeeeeaahhh?
Really?
Wow!

Kembali ke laptop tentang Nasi Goreng Mangkok tadi. Letaknya itu di bengkel ban sekaligus cucian mobil di pojok jalan antara jalan Cempaka Putih Raya dengan Jalan Cempaka Putih Tengah 13. Cuma buka pas malam hari, sebab lokasinya numpang di pelataran ruko. Gerobak, kursi plastik dan meja kayu seadanya. Bahkan lampu saja tidak ada di area makan. Jadi hanya mengandalkan cahaya seadanya, pantulan dari sinar lampu sekitarnya (lampu jalan, kios, ruko, dan rumah di dekatnya). Kalau dari jalan raya, gelap sekali. Bisa-bisa tidak terlihat. Maka kalau mencari gerobak Nasi Goreng Mangkok ini, patokannya Indomaret aja deh. Sama Domino's Pizza.

Minggu, 17 Agustus 2014

Panduan Mudik Jakarta - Palembang Jalan Darat Bawa Mobil

Mau ke Palembang nih ceritenye? Ade ape?
Oohh...lagi dinas ya? Urusan kantor?
Atau lagi kondangan, dapet undangan pernikahan saudara dekat?

Kalau kami, kebetulan baru aja silaturahmi sekaligus liburan. Yah,.. belated homecoming gitu dehh,...alias mudik telat. Udah lebaran ketiga baru deh beranjak ke kampung halaman, meluncur pakai mobil, jalan darat Jakarta – Palembang.

Jadinya sih enak juga. Jalanan kosong melompong sepanjang jalan. Belum ada bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang beropearsi. Truk dan pick up pengangkut logistik juga belum pada jalan. Lengang....Alhasil, jarak 600 km ditempuh dalam waktu hanya 18 jam saja. Kami berangkat dari rumah Pondok Kelapa jam 4:00 pagi, dan tiba di Plaju, Palembang jam 22:00. Ini tergolong cepat, sebab bilamana musim mudik, perjalanan bisa sampai 24 jam bahkan 36 jam. Wuih,..lama ya?

Iya,..sebab yang bikin lama itu antri di Pelabuhan Merak waktu mau masuk kapal Ferry. Pernah tuh, dua tahun yang lalu,..kami antri sampai 6 jam di pelataran pelabuhan menunggu giliran. Memang saat itu hari H-2 pas puncaknya arus mudik lebaran. Mana kami waktu itu bawa anak-anak bayi dan balita. Jadilah mereka kecapean. Sopir juga pada kecapean. Sebab itu kami memutuskan untuk menginap dulu saja di Bandar Lampung. Istirahat satu malam di Hotel Hanum, Lampung. Lalu, keesokan harinya baru lanjut ke Palembang.

Nah, kali ini tidak perlu menginap. Langsung saja, Palembang tembak langsung! Sengaja kami pilih berangkat subuh agar perjalanan di sekitar Lampung berlangsung siang hari. Demi keamanan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sepanjang perjalanan seperti pecah ban atau mogok. Sepanjang jalur lintas timur Sumatera sangat gelap sekali bila malam. Juga sepi, jarang penduduk. Seringkali kita mesti melewati hutan dan perkebunan karet, jati, ataupun tebu. Kebayang kan kalau malam gimana? Jadi mendingan siang hari aja deh di Sumatera nya.

Tips 1: Atur jadwal perjalanan sehingga siang di Jawa, malam di Sumatera. Lebih bagus lagi berangkat dari Jakarta jam 12 malam, jadi perjalanan sepanjang Lampung – Palembang berlangsung siang hari. 

Sekitar Jam 7 pagi kami sudah sampai Pelabuhan Merak. Tadi berhenti dua kali di dua rest area sepanjang Tol Merak untuk sholat subuh, mengisi bensin (full tank) dan mencari sarapan. Ada CFC (California Fried Chicken) yang pagi subuh sudah buka. Ayam gorengnya (paket nasi, ayam, soft drink Rp 28 ribu) lumayan untuk mengisi perut, sebab kalau di kapal tidak ada makanan yang representatif. Paling-paling cuma Pop Mie. Makanya saya ingat, dulu pas jaman mudik, Rumah Makan Simpang Raya – di Jalan raya Cilegon Merak pas setelah keluar tol – ramai diserbu orang. Beli di situ, nanti makan di kapal.

Tips 2: Bawa makanan atau belilah makanan sebelum sampai Pelabuhan Merak, sebab di kapal makanan yang enak cuma Pop Mie. 
Masuk gerbang Pelabuhan Merak – bayar Rp 275.000 untuk kendaraan pribadi – tidak pakai antri (ingat,..ini hari ketiga lebaran lho) langsung diarahkan masuk ke kapal Ferry. Loading dan boarding sekitar setengah jam, kapal pun berangkat. Tidak pakai menunggu. Isi kapal tidak penuh. Cuma terisi tidak sampai setengahnya. Semuanya mobil pribadi. Jadinya lega. Cuaca pagi hari juga cerah. Jadilah kami naik ke atas dengan ceria dan mulai foto-foto di atas dek. Latar belakangnya pulau-pulau serta lautan Selat Sunda. Angin bertiup dan bau laut. Hmmm...segar... Asyikkkk.....

Senin, 21 Juli 2014

Makan Apa Enaknya kalau lagi di Grand Metropolitan Mall, Bekasi?


Kalau lagi di Metropolitan Mall Bekasi enaknya makan di Eaton. Nah kalau lagi di mall tetangganya: Grand Metropolitan Mall...makan apa dong?

Ini dia saya kasih tahu. Tak sengaja kami menemukannya...

Gara-garanya kan begini. Sudah lazim bilamana menjelang buka puasa, mulai jam 4 sore, di Jakarta macetnya minta ampun. Tak terkecuali di Bekasi. Nah, saat itu kami sedang di Mal Grand Metropolitan. Mau pulang tapi antrian di pintu keluar kok ya sudah mengular panjang sekali. Belum lagi mobil “parkir berjamaah” di Jalan Kalimalang... Fiuhhh..!

Daripada daripada, akhirnya kami putuskan saja untuk buka bersama di mall. Bukan bareng teman-teman, tapi bareng keluarga kecil kami alias buka puasa sekeluarga... Hehehe... Ini sih sudah hampir tiap hari ya memang makan bareng sih... :P

Biasanya kami kalau lagi di Mall, kami makannya di foodcourt Eat & Eat. Banyak pilihan. Tapi sore itu kami tidak kebagian kursi. Semua sudah diduduki orang. Padahal baru jam 5 sore, lho. Masih sejam lagi berbukanya. Pindah ke restoran di sebelahnya (Red Suki, HokBen, Pepper Lunch) juga full booked. Akhirnya menengok ke ujung sana, ada Ta Wan dan Ichiban Ramen. Enak nih...tapi order sudah ditutup karena sudah penuh. :(

Tapi tengok ke ujung lagi... It's a blessing in disguise! Gara-gara semua pada penuh, jadinya kami menemukan salah satu tempat makan yang enak di Bekasi. Di lantai 3, di sebelah eskalator, bertetanggaan dengan Bioskop Premier XXI, tersebutlah warung kopi bernama EASTERN KOPI TM. Dan mereka tidak hanya menjual kopi lho – yang mana menurut saya kopinya malah biasa-biasa saja rasanya – tapi juga masakan enak-enak... apa itu?