Translate

Kamis, 04 September 2014

Nasi Goreng Merah di Mie Besak Pasar Kuto, Palembang


Pada bosen makan pempek nih?
Haha...istri saya begitu. Beliau sampai bingung, pas libur kemarin di mana-mana tiap hari makan pempek. Pagi, siang, sore, malam.

Memang begitulah adanya kalau lagi di Palembang. Cuma beda rupa-rupa aja. Ada "pempek" berkuah santan, namanya Celimpungan dan Laksan. Ada pempek digoreng terus pakai kuah udang, disebutnya Model. Kalau yg rebus dan kecil-kecil pakai kuah udang juga, namanya Tekwan. Not to mention, pempek in regular shape as people know: Kapal Selam, Lenjer, Adaan.

Dan yang jual, bukan cuma 1 - 2 orang lho. Tapi banyak sekali.
Contohnya di dekat rumah kami, di Plaju. Di penggal 1 km itu ada puluhan penjual pempek. Hampir tiap 100 meter ada yang jual. Berupa warung ataupun gerobak. Ada Apy, Vico, Akiun, Flamboyan, Sentosa, Paforit, dan lain-lain yang tak bermerk. Benar-benar Kota Sejuta Pempek.

Wow...amazing! dan bikin klenger-blenger istri saya. Hehehe.

Hingga suatu sore ia bilang, “Gimana kalau kita makan yg lain aja yu! Selain pempek."

“Oks, ayo kita makan pindang!”

“Oh no! Not again...,” said my wife.

Sebabnya, Palembang juga Kota Sejuta Pindang. Hehe. Ada Pindang Baung (ini yang paling umum), Pindang Udang, dan Pindang Tulang. Dan yang jual juga banyak dengan beragam variasi. Sebut saja Pindang Meranjat (pakai terasi), Pindang Kuyung (khas Sekayu), Pindang Sopia (pakai udang satang besar-besar), Pindang Musi Rawas, Pindang Sekanak, dan Pindang Pondok Kelapa.

“Yang lain selain pempek dan pindang”, kata istri saya.
“Dan juga bukan Martabak HAR”, ujarnya segera. Lugas mendahului sebelum saya sempat menjawab demikian.

Maka bingunglah anak mudo...

Memang ada Roti Komplit, Bakmi Bangka, dan lain-lain, tapi secara stereotip, khasnya Palembang ya tiga macam kuliner tadi itu.

Hmmm... Untunglah ada Ridho, tour guide kami yg ikut dengar dan kasih rekomendasi,
"Makan Mie Besak bae, Kak!"

“Oww... Apa tuh?”

“Hmmm… Oke deh... (whatever it is), ayo kita ke sana!”

Letaknya di depan Pasar Kuto, di Jalan Segaran. Itu lho...pasar lama yang terkenal sebagai tempat jual duren. Di depan pasarnya, ada pertigaan. Nah, pas pertigaan itu ada warung kopi terkenal: H. Anang. Meski buka 24 jam, tapi lebih ramai yang datang pas sarapan pagi-pagi . Ada Celimpungan, Bubur Ayam, Burgo, Laksan, dan kue-kue tradisional Palembang (Kumbu Kacang Merah, Kumbu Kacang Hijau, Kojo, Engkak Ketan, dan lain-lain).

Nah, Mie Besak ini posisinya juga di dekat pertigaan itu, di sebelah Indomaret. Bangunan sangat sederhana, semi permanen dari kayu, bersebelahan dengan toko bikin gigi “Maju Jaya” dan Lorong Kebangkan. Gampang dikenali dari aroma harum masakan yang menyeruak tercium dari jauh, sampai ke pertigaan jalan tadi. Sebabnya, mereka masaknya di luar, di depan warungnya. Ada empat kuali. Dua kuali masak bumbu, yang lain masak nasi goreng, dan yang satu lagi mie besak.

Selasa, 19 Agustus 2014

Nasi Goreng Enak di Seputar Cempaka Putih, Pulo Mas dan Rawasari


Nah, ini dia tempat makan nasi goreng pas jaman pacaran dulu: Nasi Goreng Mangkok. Warungnya kaki lima tapi rasa bintang lima. Lezaattooo...

Sttt...sebenarnya sih di kitaran Cempaka Putih sini ada 3 tempat makan legendaris lokasi kami kencan dulu... Hehehe *blushing_jadi_malu, yaitu : Sate Kambing Pak Ali, Bebek Kaleyo, dan satu lagi ya Nasi Goreng Mangkok ini. Ketiganya sampai sekarang masih eksis. Bahkan Bebek Kaleyo makin berkibar, cabangnya ada di mana-mana. Saking larisnya, Bebek Kaleyo berani mengklaim sebagai warung bebek paling ramai se-Indonesia... Oyeeeeaahhh?
Really?
Wow!

Kembali ke laptop tentang Nasi Goreng Mangkok tadi. Letaknya itu di bengkel ban sekaligus cucian mobil di pojok jalan antara jalan Cempaka Putih Raya dengan Jalan Cempaka Putih Tengah 13. Cuma buka pas malam hari, sebab lokasinya numpang di pelataran ruko. Gerobak, kursi plastik dan meja kayu seadanya. Bahkan lampu saja tidak ada di area makan. Jadi hanya mengandalkan cahaya seadanya, pantulan dari sinar lampu sekitarnya (lampu jalan, kios, ruko, dan rumah di dekatnya). Kalau dari jalan raya, gelap sekali. Bisa-bisa tidak terlihat. Maka kalau mencari gerobak Nasi Goreng Mangkok ini, patokannya Indomaret aja deh. Sama Domino's Pizza.

Minggu, 17 Agustus 2014

Panduan Mudik Jakarta - Palembang Jalan Darat Bawa Mobil

Mau ke Palembang nih ceritenye? Ade ape?
Oohh...lagi dinas ya? Urusan kantor?
Atau lagi kondangan, dapet undangan pernikahan saudara dekat?

Kalau kami, kebetulan baru aja silaturahmi sekaligus liburan. Yah,.. belated homecoming gitu dehh,...alias mudik telat. Udah lebaran ketiga baru deh beranjak ke kampung halaman, meluncur pakai mobil, jalan darat Jakarta – Palembang.

Jadinya sih enak juga. Jalanan kosong melompong sepanjang jalan. Belum ada bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang beropearsi. Truk dan pick up pengangkut logistik juga belum pada jalan. Lengang....Alhasil, jarak 600 km ditempuh dalam waktu hanya 18 jam saja. Kami berangkat dari rumah Pondok Kelapa jam 4:00 pagi, dan tiba di Plaju, Palembang jam 22:00. Ini tergolong cepat, sebab bilamana musim mudik, perjalanan bisa sampai 24 jam bahkan 36 jam. Wuih,..lama ya?

Iya,..sebab yang bikin lama itu antri di Pelabuhan Merak waktu mau masuk kapal Ferry. Pernah tuh, dua tahun yang lalu,..kami antri sampai 6 jam di pelataran pelabuhan menunggu giliran. Memang saat itu hari H-2 pas puncaknya arus mudik lebaran. Mana kami waktu itu bawa anak-anak bayi dan balita. Jadilah mereka kecapean. Sopir juga pada kecapean. Sebab itu kami memutuskan untuk menginap dulu saja di Bandar Lampung. Istirahat satu malam di Hotel Hanum, Lampung. Lalu, keesokan harinya baru lanjut ke Palembang.

Nah, kali ini tidak perlu menginap. Langsung saja, Palembang tembak langsung! Sengaja kami pilih berangkat subuh agar perjalanan di sekitar Lampung berlangsung siang hari. Demi keamanan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sepanjang perjalanan seperti pecah ban atau mogok. Sepanjang jalur lintas timur Sumatera sangat gelap sekali bila malam. Juga sepi, jarang penduduk. Seringkali kita mesti melewati hutan dan perkebunan karet, jati, ataupun tebu. Kebayang kan kalau malam gimana? Jadi mendingan siang hari aja deh di Sumatera nya.

Tips 1: Atur jadwal perjalanan sehingga siang di Jawa, malam di Sumatera. Lebih bagus lagi berangkat dari Jakarta jam 12 malam, jadi perjalanan sepanjang Lampung – Palembang berlangsung siang hari. 

Sekitar Jam 7 pagi kami sudah sampai Pelabuhan Merak. Tadi berhenti dua kali di dua rest area sepanjang Tol Merak untuk sholat subuh, mengisi bensin (full tank) dan mencari sarapan. Ada CFC (California Fried Chicken) yang pagi subuh sudah buka. Ayam gorengnya (paket nasi, ayam, soft drink Rp 28 ribu) lumayan untuk mengisi perut, sebab kalau di kapal tidak ada makanan yang representatif. Paling-paling cuma Pop Mie. Makanya saya ingat, dulu pas jaman mudik, Rumah Makan Simpang Raya – di Jalan raya Cilegon Merak pas setelah keluar tol – ramai diserbu orang. Beli di situ, nanti makan di kapal.

Tips 2: Bawa makanan atau belilah makanan sebelum sampai Pelabuhan Merak, sebab di kapal makanan yang enak cuma Pop Mie. 
Masuk gerbang Pelabuhan Merak – bayar Rp 275.000 untuk kendaraan pribadi – tidak pakai antri (ingat,..ini hari ketiga lebaran lho) langsung diarahkan masuk ke kapal Ferry. Loading dan boarding sekitar setengah jam, kapal pun berangkat. Tidak pakai menunggu. Isi kapal tidak penuh. Cuma terisi tidak sampai setengahnya. Semuanya mobil pribadi. Jadinya lega. Cuaca pagi hari juga cerah. Jadilah kami naik ke atas dengan ceria dan mulai foto-foto di atas dek. Latar belakangnya pulau-pulau serta lautan Selat Sunda. Angin bertiup dan bau laut. Hmmm...segar... Asyikkkk.....

Senin, 21 Juli 2014

Makan Apa Enaknya kalau lagi di Grand Metropolitan Mall, Bekasi?


Kalau lagi di Metropolitan Mall Bekasi enaknya makan di Eaton. Nah kalau lagi di mall tetangganya: Grand Metropolitan Mall...makan apa dong?

Ini dia saya kasih tahu. Tak sengaja kami menemukannya...

Gara-garanya kan begini. Sudah lazim bilamana menjelang buka puasa, mulai jam 4 sore, di Jakarta macetnya minta ampun. Tak terkecuali di Bekasi. Nah, saat itu kami sedang di Mal Grand Metropolitan. Mau pulang tapi antrian di pintu keluar kok ya sudah mengular panjang sekali. Belum lagi mobil “parkir berjamaah” di Jalan Kalimalang... Fiuhhh..!

Daripada daripada, akhirnya kami putuskan saja untuk buka bersama di mall. Bukan bareng teman-teman, tapi bareng keluarga kecil kami alias buka puasa sekeluarga... Hehehe... Ini sih sudah hampir tiap hari ya memang makan bareng sih... :P

Biasanya kami kalau lagi di Mall, kami makannya di foodcourt Eat & Eat. Banyak pilihan. Tapi sore itu kami tidak kebagian kursi. Semua sudah diduduki orang. Padahal baru jam 5 sore, lho. Masih sejam lagi berbukanya. Pindah ke restoran di sebelahnya (Red Suki, HokBen, Pepper Lunch) juga full booked. Akhirnya menengok ke ujung sana, ada Ta Wan dan Ichiban Ramen. Enak nih...tapi order sudah ditutup karena sudah penuh. :(

Tapi tengok ke ujung lagi... It's a blessing in disguise! Gara-gara semua pada penuh, jadinya kami menemukan salah satu tempat makan yang enak di Bekasi. Di lantai 3, di sebelah eskalator, bertetanggaan dengan Bioskop Premier XXI, tersebutlah warung kopi bernama EASTERN KOPI TM. Dan mereka tidak hanya menjual kopi lho – yang mana menurut saya kopinya malah biasa-biasa saja rasanya – tapi juga masakan enak-enak... apa itu?

Sabtu, 28 Juni 2014

Di Mana Tempat Wisata Alam di Jakarta Utara? Bisa Jalan Sekeluarga, Bagus untuk Foto dan Anak-anak Bisa Main


Kami kemarin berwisata alam (ECOTOURISM) melihat mangrove. Adanya di Jakarta lho. Tidak perlu jauh-jauh ke luar kota. Yang hijau dan natural ternyata ada juga di ibukota Jakarta. Di sana kita bisa lihat burung-burung (bird observation) selain atraksi utama: menikmati alam pesisir pantai dan menanam bakau (mangrove). Di mana sih? Sudah penasaran? Nah inilah dia.

Adanya di Kamal Pluit, tepatnya di Pantai Indah Kapuk. Namanya Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Letaknya persis di sebelahnya gedung Buddha Tzu Chi Center. Kalau masuk kompleks perumahan PIK (Pantai Indah Kapuk), gampang sekali mencarinya. Tidak bakalan kelewat deh, sebab Yayasan Buddha Tzu Chi ini gedungna besar sekali – dan juga bagus. Persis pas bundaran (roundabout).

Lengkapnya begini caranya ke Taman Wisata Alam Mangrove PIK, Jakarta

Kami berangkat dari rumah siang jam setengah dua agar bisa tiba di lokasi sekitar jam 3. Hal itu mengingat bahwa Taman Bakau ini kan berada di pinggir pantai utara Jakarta, jadi pastinya cuacanya terik dan lebih bersahabat kalau dikunjungi pagi atau sore hari (Tips Pertama)

Dari Pondok Kelapa kami masuk ke Tol Priuk, terus saja menuju arah Bandara Soekarno Hatta. Nah, setelah melewati Jembatan Tiga dan Pluit, lurus saja dan bersiap keluar. Exit nya pas tulisan Pantai Indah Kapuk (PIK). Nah, keluar tol itu kita langsung berada di kompleks perumahan PIK. Lurus saja terus melewati danau di kanan jalan (banyak orang nongkrong dan mancing), nanti ketemu jembatan. Menyeberangi Sungai / Kali Cengkareng lalu belok kanan. Lurus masuk terowongan, melintas di bawah Jalan Tol. Masih lurus saja terus menuju arah Rumah Sakit PIK. Nanti di depan ada persimpangan. Belok kiri melewati Waterboom Pluit. Lurus melewati deretan ruko berbagai macam restoran. Nah, persis di depan ada bundaran besar (pepohonan di tengah-tengahnya) yang ada gedung bergaya Istana Tionghoa: Yayasan Buddha Tzu Chi. Masuk ke bundaran itu, putar kanan dikit lalu langsung kiri. Ikuti petunjuk jalan (plang/signage) bertuliskan Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Menyusur jalan di samping Buddha Tzu Chi, mentok lalu belok kanan. Nah, mentok lagi, belok kiri. Itulah dia pintu masuk ke Taman Wisata Alam Hutan Bakau, Jakarta.

Masuk ke Taman Wisata Alam Hutan Bakau di Pluit, Jakarta

Gedung Aula menyambut Anda

Selasa, 03 Juni 2014

Rumah Makan Sunda di Bandung; Antara Ma' Uneh, Sawios, dan Ibu Hj. Cijantung

Taman Flexi di Bandung tempat main sepeda...Asyik..

Libur panjang ya? Asyik banget!
Wisata ke Bandung lewat  Tol Cipularang tapi tidak lupa keluar tol sebentar buat mampir makan siang di Sate Maranggi yang asli. Yang di bawah hutan jati, Purwakarta itu lho...

Nah, sore-sore menjelang maghrib kami sampai deh di Bandung. Kalau sudah di tanah Parahyangan tentunya pengen mencicipi yang khas dong. Maka daripada itu terpikirlah untuk makan di rumah makan Sunda favorit keluarga kami: Ibu Hj. Cijantung (dulu namanya Hj. Ciganea).

Dari exit tol Pasteur tinggal lurus saja, naik jembatan Pasupati sampai ujungnya, bermuara di Jalan Surapati. Ketemu lampu merah depan Gasibu, tinggal lurus saja sedikit. Pelan-pelan. Ada belokan pertama ke kiri – di sebelahnya RM. Sindang Reret. Nah, masuk ke situ. Itu namanya Jalan Merak (di situ ada toko kaos legendaris “C59 “– yang angkatan-angkatan babe gua, tahun 90-an pasti tahu banget sama baju kaos ini). Tak jauh dari situ, tengok kiri..ketemu deh dengan Restoran Sunda Ibu Hj. Cijantung - Purwakarta. Sudah terbayang empuknya ayam goreng dan lezatnya pepes jamur.

Namun ternyata sodara-sodara...rumah makannya tutup!
Ya,..Anda tidak salah dengar... Kalau malam Warung Sunda Hj. Cijantung sudah tutup. Ini sekaligus tips buat teman-teman semua,...kalau mau makan di sini datanglah hanya pas siang-siang. Makan “brunch” boleh,..makan siang boleh,.. makan sore juga boleh. Tapi tidak untuk makan malam!

Kuciwa deh kami malam itu...Langsung putar mobil balik ke Gasibu dan terpikir untuk menuju restoran favorit keluarga kami yang satu lagi: Sea Food Parit 9. Jadilah kami meluncur di Jalan Riau (R. E Martadinata) dan pas ketemu Taman Pramuka iseng belok kiri. Eh, ternyata ketemu Restoran Mak Uneh. Ada di kiri jalan persis di pojok. Gara-gara sudah pada kelaparan semua, maka tanpa pikir panjang langsung deh parkir di situ. Kan ini masakan Sunda juga. Lagipula nama “Mak Uneh” sudah terkenal dan legendaris, yang di Jalan Pajajaran. Kalau yang ini saya baru tahu. Ternyata ada juga.

Cabang yang di Taman Pramuka sini mengusung konsep restoran modern seperti Bumbu Desa, bukan konsep warung sederhana sebagaimana Hj. Ciganea. Gedung dan interior Mak Uneh dibikin bagus dan mewah. Ada foto Mak Uneh yang dibingkai cantik di salah satu dinding. Ada semacam saung juga di teras dengan kolam kecil di bawahnya. Bisa lesehan di situ, atau mau makan di meja makan – seperti kami malam itu – boleh juga. Meja dan kursinya tampilan masa kini.

Sabtu, 10 Mei 2014

Tempat Wisata Keluarga sekaligus Tempat Makan Keluarga yang Enak dan Nyaman di Sentul City, Bogor


Kami baru pulang dari Pasar Apung, Sentul City... Hati senang.. Apalagi istri saya. Ia gembira sekali di sana. Katanya makanan di sana enak-enak semua. Rasanya pengen dicobain semua.

Kapan-kapan kita ke sana lagi ya?
Ayo, siapa takut!

Anak-anak juga senang sekali ke sana. Mereka bisa main perosotan dan loncat-loncatan di arena bantalan udara (Rp 20 ribu per 30 menit). Anak saya bilangnya: boing-boing…"Adek bisa main boing-boing"...maksudnya loncat-loncat.

Anak kecil, mau di mana juga tetap aja carinya permainan...

Tapi atraksi utama di Pasar Apung ini tentu saja wisata naik perahu keliling sungai buatan. Gratis! Cukup bayar tips saja seikhlasnya (rata-rata pada ngasih Rp 20 ribu) buat tukang dayungnya. Wow, anak saya senang sekali. Istri saya juga! Hehehe…Kalau saya? Cukup nonton saja,..soalnya dulu di Palembang sering sih naik sampan beginian. Namanya kapal ketek.

"Row, row, row your boat gently down the stream...", anak kami nyanyinya gitu

Weekend kemarin itu, kami ke Sentul lagi. Kali ini agak berbeda, dua keluarga dalam satu mobil. Kami sekeluarga plus adik saya sekeluarga. Kami berangkat dari Pondok Kelapa, Jakarta Timur jam 9 pagi. Tujuannya wisata keluarga ke luar kota, cari suasana berbeda di mana anak-anak bisa bermain, pemandangan alam indah dan kuliner enak.

Perjalanan satu jam sampai deh ke Sentul City. Di sini tempat wisata lumayan banyak lho. Mulai dari yang alami seperti Air Terjun Bidadari sampai yang modern seperti Jungle Land Adventure Theme Park-nya Bakrie Sentul Nirwana. Mau wisata kuliner juga bisa. Ada Kopi tiam Oey dan Sop Ikan dalam Bambu “Karimata”. Jadi di sekitaran Sentul City ini kita bisa bikin itenerary apa saja yang mau kita datangi dalam sehari.

Seperti kami, di hari Minggu itu. Pagi-pagi mampir ke Taman Budaya Sentul City. Anak-anak main kuda, beca mini, sepedam layang-layang dan flying fox. Lalu lanjut makan siang di Restoran Karimata, mencicipi sop ikan dalam bambu. Setelah itu sholat zuhur di Masjid Andalusia, parkir mobil di situ dan nyeberang ke Pasar Apung.

Mendengar namanya, dulu saya mengira ini tempat jual beli barang layaknya pasar tradisional terapung seperti di Banjarmasin, Kalimantan atau di Ratchaburi, Thailand. Orang-orang pada bertransaksi di atas sampan di sungai, jual beli pisang, kelapa, sayur mayur, bumbu dan kue-kue. Seru tuh! Sekaligus menarik... Tapi ternyata bukan begitu sodra-sodra...