Translate

Senin, 07 April 2014

Gedung Olahraga Tempat Main Basket, Voli, Capoiera dan Futsal di Jakarta Timur; Ada Sekolah Futsalnya Juga


Saya suka bola. Klub favorit saya Manchester United. Ya,..ya..ya,..saya tahu, MU memang lagi terpuruk sekarang ini. Gak papa. Hidup memang seperti roda BMW, kadang di atas, kadang di bawah. Meskipun menurut saya, ini semua salahnya David Moyes, si manajer yang tidak pandai meramu taktik dan semangat juang pemain. Namun anehnya tetap aja gak dipecat-pecat…Lho, kok jadi curcol nih? Hehehe…

Nah, selain nonton bola, saya juga suka maen bola. Dari jaman masih kicil bingit, hobinya maen bola melulu. Pas SD tiap keluar main kami selalu maen bola di halaman sekolah. Padahal maennya di atas aspal keras (bukan rumput) dan pakai bola kasti yang kecil itu. Nendangya aja susah. Lanjut pas sudah besar main di lapangan komplek rumah. Bahkan pas jaman kuliah terlalu semangat maennya, sampai-sampai pada sebuah pertandingan, saya melakukan gerakan akrobatik yang menyebabkan patah tulang selangka (fraktur clavicula) dan musti dioperasi pasang pen titanium. Saya ingat kejadiannya itu hanya selang beberapa hari dengan vokalis Dewa, Once yang juga mengalami fraktur clavicula saat maen bola di Malaysia. Yah,..memang kami berdua beda-beda tipis dalam hal kegantengan.. Prett! :P

Selasa, 01 April 2014

Di Mana Ketupat Sayur Padang yang Paling Enak di Jakarta?


Kecuali Anda penganut diet OCD Deddy Corbuzier, pastinya Anda suka sarapan kan? Kalau pagi-pagi jam 7 gitu suka susah ya cari makanan? Antara supply dan demand tidak seimbang…Yang jualan lebih sedikit dari yang beli. Akibatnya tempat makan yang buka pada pagi hari selalu ramai dipenuhi wajah-wajah kelaparan. Apalagi pada hari libur dan sabtu minggu. Sampai antri. Di hari malas sedunia itu memang enaknya makan di luar rumah saja. Praktis. Atau yang habis berolahraga jogging dan bersepeda, pulangnya langsung mampir sarapan pagi mengisi perut. Bakar kalori 1000 masuknya 5000. Mantab kan? Hehehe

Nah, masalahnya itu adalah, tidak semua tempat makan pagi-pagi itu enak rasanya. Tidak semua yang antri dikunjungi orang berarti enak rasanya. Sebabnya itu tadi,..kesenjangan antara penawaran dan permintaan mengenai makanan di pagi hari. Jadi, mereka itu berjejalan antri belum tentu karena makanannya enak, tapi karena tidak ada pilihan lain. Apa boleh buat…

Contohnya nih, sebuah warung mie ayam di dekat rumah kami. Mie ala kampung yang murah meriah karena berupa warung kaki lima. Tiap pagi pasti ramai dikunjungi orang, pada makan di situ. Apalagi sabtu – minggu. Ampun, panjangnya antrian….Kami pun penasaran dan mencoba beli. Ternyata,..tidak enak sodara-sodara! Minggu berikutnya kami coba lagi. Siapa tahu lidah kami yang salah, sebab orang-orang kok masih saja ramai makan mie ayam itu. Dan kembali kami kecewa…Dan minggu berikutnya…Kami tidak ke situ lagi dong…Masa mau jatuh ke lubang yang sama 3x ? Keledai saja cuma 2x…Hehehe

Ada juga tempat sarapan pagi yang mahal doang. Beriklan di TV dan below the line untuk mengangkat penjualan sarapan paginya. Kita sebut saja dia #NoMention, depannya P belakangnya HUT,..terkenal sebagai penjual pizza. Nah, saking hopeless nya cari sarapan pagi yang enak, kami pernah tuh mampir situ pagi-pagi. Mencoba menu sarapannya ala orang barat,..pakai sosis, daging asap, omelet, dan kacang polong…Enak? Gak juga,..biasa aja. Tidak sesuai antara harga dan rasa. “Value < Price --> Mahal”. Kalau sarapan seperti menu itu,..mendingan beli saja sosis bratwurst + daging asap merk terkenal. Goreng sendiri. Dan Anda akan mendapatkan masakan dan rasa yang sama dengan #NoMention tapi Anda membayar lebih murah. Prinsip ekonomi bangget ya? Huahahahahaha

Jadi di mana dong Sarapan Pagi yang enak dan murah?
Kata kuncinya “Enak dan Murah”. Ini kombinasi yang selalu diharapkan orang-orang sesuai Prinsip Ekonomi I: “Mendapatkan barang/jasa sebesar-besarnya dengan usaha/pengorbanan sekecil-kecilnya”.

Buat kamu yang tinggal di sekitar Klender, Pondok Kopi, Duren Sawit, Pondok Kelapa, Cikunir, dan Galaxy Bekasi, nih saya kasih rekomendasi. Datanglah beramai-ramai ke Lontong Padang “Pondok Sarapan Pagi” di Pondok Kelapa. Tiada kesan tanpa kehadiran Anda. Yang dari Jatiwaringin dan Pondok Bambu juga boleh datang. Bahkan yang lebih jauh lagi, misalnya dari Sentul seperti Pak Bondan Winarno. Silakan lho Pak kalau mau ke sini. Dulu saja Bapak jauh-jauh datang buat sekedar mencicipi ketan durian Mbok Ne Ancuk kan? Atau Farah Quinn mau kemari? Boleh,..boleh…nanti saya temani :)


Warung Ketupat Sayur “Pondok Sarapan Pagi” ini letaknya di Jalan Raya Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Senin, 31 Maret 2014

Di Mana Rujak Cingur Paling Enak di Jakarta?


Nah barusan kami pulang dari makan rujak cingur paling enak se-Jakarta. Di mana tuh? Letaknya di Kelapa Gading. Biasanya kami makan di Sate Afrika Coulibaly Mall Kelapa Gading, tapi kali ini pengennya yang lebih Indonesia. Warisan budaya kuliner nusantara.

Meski bukan orang Surabaya, saya sangat suka sekali rujak cingur. Bayangkan, dulu pernah seminggu saya tinggal di Surabaya dan tiap hari saya makan rujak cingur. Mumpung lagi di Surabaya jadi disempat-sempatkan makan rujak cingur. Kalau tidak pagi, ya siang. Kalau tidak, ya sore atau malamnya. Aji mumpung “malapeh salero” (memuaskan selera).

Apa yang bikin saya suka rujak cingur? Mungkin kalau dianalisis itu disebabkan agregat dari beberapa faktor. Qeqeqeqe,...  :P

Pertama, saya suka makan sayur-sayuran. Mulai dari gado-gado, lotek sampai shabu-shabu. Dan saya juga penggemar rujak meski tidak suka yang pedas. Asam, manis, asin bercampur rasanya. Dan itu ada di rujak cingur yang memang menggunakan sayur dan buah.

Faktor kedua, saya suka terasi. In Malaysia and East Sumatra they call it "belacan". Saya suka harum terasi dibakar meski bagi sebagian orang justru baunya itu terlalu menusuk dan mengganggu. Yeach,...terasi itu hampir seperti durian: “smell like hell, taste like heaven”. Dan di rujak cingur ini, ada sejenis terasi yang digunakan. Sama-sama terbuat dari udang, khas Jawa Timur, bentuknya seperti pasta bahkan kadang lebih mirip dodol. Namanya petis. Saya suka ini...

Faktor ketiga, saya suka kikil dan sejenisnya. Kalau lg di Restoran Padang Pagi Sore, pasti tak lupa saya pesannya Gulai Tunjang. Enak sih. Kalau lagi di Bandung, tidak lupa mampir di Mie Kocok Kartika Sari, karena ada kikilnya. Not to mention, masakan khas andalan Ibu saya kalau lagi Lebaran Idul Fitri: Sop Kaki Sapi. Hmmm…..yummy…

Hubungannya dengan Rujak Cingur? Ya, sesuai namanya, jajanan khas Surabaya ini pakai moncong Sapi. Enak banggett...kenyal-kenyal sedap. Cuma karena hari genee sudah susah cari cingur sapi (satu sapi cuma dapet satu mulut, sementara yg jual rujak cingur banyak), maka para penjual itu menggantinya dengan kikil (kaki) sapi.

Di Jakarta Raya, susah menemukan Rujak Petis dengan rasa yang enak. Belum lagi harganya pada mahal-mahal. Entah kenapa, di warung kaki lima atau pinggir jalan (bangunan semi permanen) saja, mereka jualnya 25 ribu per porsi. Apa karena petisnya harus “impor” dari Jawa Timur sana ya? Dan soal rasa amburadul…tidak dijamin enak deh! Di luar tanggung jawab percetakan…hehehe.

Untunglah akhirnya saya menemukan Rujak Cingur yang ini. Enak dan murah , hanya 15 ribu. Banyak orang asal Surabaya yang makan di situ. Kentara dari bahasa dan logat bicara mereka.  Jadi, kalau orang asli Surabaya saja sudah mengakui kelezatannya, maka saya pun tidak perlu ragu lagi. Kata orang, di sekitaran Bintaro ada Ruja Cingur enak…tapi kalau dari rumah saya jauh banget mau ke sana. Mendingan ke Kelapa Gading ini saja.

Senin, 24 Maret 2014

Rumah Makan Arab: Nasi Kebuli dan Sate Kambing di Condet, Jakarta Timur


Kemaren makan di restoran Jepang. Hari ini mau cobain restoran Arab. Mau masakan Arab?

Nih ada rekomendasi yang enak bin lezat bin ajibbb...Saya tahunya dari istri saya, sementara ia tahu dari temannya yang keturunan Arab yang tinggal di sekitar situ. Namanya SATE TEGAL ABU SALIM. Aha,..sang teman ini memang punya benang merah erat sekali dengan rumah makan ini. Apa pasal? Coba simak! Pertama, ia dan “Abu Salim” sama-sama keturunan Arab. Kedua, mereka sama-sama berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Dan ketiga, tinggalnya pun berdekatan: satu di Cililitan, satu lagi di Condet. Klop!

Condet, terkenal dengan salaknya. Di sini, selain ada perkampungan Betawi, juga banyak orang keturunan Arabnya juga. Makanya di sepanjang jalan sempit lebar dua mobil ini banyak bertebaran toko parfum, oleh-oleh haji, kurma, dan obat herbal Arab. Semuanya mirip-mirip. Jadi bingung mana tempat yang bagus untuk dikunjungi. Itulah untungnya kalau punya rekomendasi dari sobat. Walau di sini banyak rumah makan Arab, tapi katanya yang enak ya si Abu Salim ini.

Memangnya apa menu spesialnya di sana?
Pastinya Sate Kambingnya dong. Secara nama saja sudah jelas bahwa menu andalannya Sate Tegal. Kelezatan sate tusuk daging kombinasi hati kambing-nya sudah melegenda banget. Tapi tadi malam pas ke sana kebetulan satenya sedang habis, jadi kami pesan yang lain. Istri saya pesan Nasi Kebuli (Rp 40 ribu), menu yang sudah top sekali persembahan warung ini, selain Nasi Kabsah-nya. Untuk anak-anak yang tidak suka pedas, pesannya Gule Kambing (Rp 35 ribu) dan nasi putih (Rp 5 ribu). Saya sendiri pesannya Krengsengan (Rp 35 ribu). Apa tuh?

Nasi Kebuli dan Gulai Kambing di RM Abu Salim Condet

Dari namanya sih saya menduga ini bukan masakan asli Arab banget. “Krengsengan” terdengar so Javanese, karena berima dengan “oseng-oseng” dan “tengleng”. Tapi ada rasa kapulaga-nya juga, rempah yang biasa dipakai di masakan Arab. Jadi, barangkali ini masakan peranakan (fusion) Arab + Jawa. Coba nanti kita tanya Pak Bondan Winarno deh untuk pastinya. Kalau bagi saya sendiri, rasa krengsengan ini mirip dengan gulai khas Palembang yaitu Malbi. Rasanya enak, agak manis, terasa pedas merica serta harum kayu manis. Bedanya, krengsengan ini kuahnya lebih encer dan pakai daging kambing.

Sabtu, 22 Maret 2014

Warung Sushi dan Thai Tea yang Murah tapi Enak di Jakarta Timur


Kalau mau makan ramen sekarang kami gak perlu pergi jauh-jauh lagi. Di dekat rumah juga ada Restoran Jepang Sushiku. Menyajikan fusion sushi dan ramen. Jadi kalau mau sushi tentunya juga bisa di situ. Tapi di sini harga sushi-nya lumayan mahal. Rata-rata sekitar Rp 50 ribuan. Maklum, yang menyajikannya itu Chef Bobby, sang juara kontes sushi Indonesia. Pastinya enak dong sushinya...

Tapi kami ini tidak terlalu tahu tentang masakan Jepang. Bisa dibilang awam tentang sushi. Tidak terlalu sensitif soal rasanya, sehingga kurang bisa membedakan antara sushi kategori “enak” dan kategori “enak banget”. Maka dari itu, makan sushi yang murah meriah juga oke lah buat kami. Tentu rasa sebanding dengan harga. Maka, harganya juga tidak terlalu mahal. Mulai dari 13 ribu sampai dengan 30 ribu. Tidak heran bilamana banyak anak SMA dan kuliahan yang nongkrong ramai di sini. Di mana sih?

Anak SMA nya langsung pada tertunduk malu saat tahu difoto  :)

Di SUSHI GARDEN + SAM THAI TEA Pondok Kelapa.


Letaknya persis bersebelahan dengan Salon Tommy yang terkenal sekecamatan Duren Sawit itu. Ada di depannya Seven Eleven. Bangunannya kecil saja. Hanya memuat sekitar lima meja di dalam ditambah dua meja di teras luar. Desain interiornya juga sederhana, hanya menggunakan elemen-elemen praktis dan furniture terbuat dari kayu jati Belanda. Tapi, meski kecil, ada AC-nya juga lho. Jadi tidak perlu takut kepanasan kalau hang out di sini. Ditambah lagi, depannya banyak pohon, jadi duduk di kursi teras juga asyik.

Jadi sesuai motto dan misinya agar “Sushi bisa dinikmati oleh semua kalangan”,..maka sajian menu di Sushi Garden ini harganya bersahabat dengan kantong, meski tentu rasanya tetap enak, disesuaikan dengan citarasa lidah orang Indonesia. Buktinya, ramai lho pengunjungnya. Tiap malam minggu apalagi. Lagipula, ini sudah cabang kedua (buka November 2013)  setelah di Grand Galaxy City, Bekasi (Juni 2012).

Rabu, 19 Maret 2014

Tempat Makan yang Suasana Alam di Jakarta Timur; Makan di Saung


Sebagai warga Jakarta, kami merindukan makan siang di tempat yang asri. Di bawah rindangnya pepohonan, dengan semilir angin membelai lembut, dan menikmati pemandangan hijau serta kolam ikan yang bergemericik. Yah..rada-rada kaya di Saung Mang Engking Depok gitu deh....Tapi di sini di mana? D tengah belantara hutan beton, di manakah ku harus mencarinya... Ahayyy....

Beruntung sekali, saat pulang dari Taman Gratis Hendropriyono, kami menemukannya! Sebuah rumah makan di kawasan Ceger Taman Mini Jakarta Timur, yang rindang sesuai namanya: Rindang Alam.


Dan tahukah Anda, bila sedang berada di sekitar Ceger sampai Kampung Rambutan atau Taman Mini cukup sulit untuk menemukan rumah makan yang representatif. Dalam artian, makanannya enak dan variatif, harganya tidak mengagetkan, serta tempatnya nyaman terutama untuk keluarga dengan anak kecil atau menjamu tamu/rekan bisnis. Bahkan untuk rapat atau acara perayaan juga bisa, sebab di Rumah Makan Rindang Alam juga ada ruang pertemuannya. Cukup besar. Di sini juga kan ada mushollanya, jadi kalau misalnya cari tempat untuk acara buka puasa bersama bisa juga.

Selasa, 18 Maret 2014

Restoran Jepang Ramen - Sushi Yang Enak di Mana di Jakarta Timur?


Ternyata ramen itu enak!
Lhoh ?
Bukannya memang ya? JKT48 aja pada suka...
Iya siih, cuma kami telat nih tahunya... Gara-garanya itu begini.

Dulu, saat ramen dan sushi marak bermunculan di jakarta kira2 setahun lalu, kami tidak begitu antusias. Apa sebab? Kami salah mencicipi ramen. Kami makannya itu di sebuah tempat makan di mall, yang kita sebut saja namanya #NoMention. Restoran ini banyak counter-nya di berbagai mall. Namanya “berbau” Jepang dan menyajikan masakan kejepang-jepang. Dan kami mencoba ramennya…

Apanyana sodra-sodra!
Itu ramen kok rasa Indomie ya? Hehehe…Gak jauh beda! Dan itulah sebabnya kami jadi ilfil sama ramen. Otak kami berpikir, ramen itu = indomie rebus yang ditambahin saus teriyaki. Tapi dijualnya mahal. Dan herannya, kok orang-orang suka ya? Di Kelapa Gading, Restoran ramen pada ngantri. Makin heranlah kami…

Tapi semuaya kini berubah!
Berawal dari gerakan Support Your Neighborhood Restaurant maka kami iseng pengen mencoba makan Japanese Fod di restoran dekat rumah. Namanya SUSHIKU, di Jalan Pondok Kelapa Raya, depan pom bensin, persis di samping ruko ATM Bank Mandiri.

Kalau datang dari arah Klender atau Banjir Kanal Timur (BKT), lurus saja melewati pertigaan (jangan belok). Tengok kiri ada pom bensin. Nah, persis di seberang pom bensin ada plang ATM Mandiri. Masuk situ dan parkir. Sampai deh.

Kalau datang dari Kalimalang, lurus saja melewati Pizza HUT dan ketemu perempatan Kelurahan lurus saja (jangan belok). Melewati kantor Telkom, Indomaret dan Alfamart. Lurus dikit lagi. Di depan ada terlihat plang ATM Mandiri (sebelah kiri). Nah itulah dia. Masuk situ dan parkir. Sampai deh.

Di Jalan Pondok Kelapa ini banyak sekali rumah makan yang timbul-tenggelam. Bermunculan sebentar beberapa bulan, terus tutup. Kebanyakan begitu. Termasuk restoran Jepang. Kemaren ada beberapa yang buka. Tapi yang bertahan cuma dua. Salah satunya ya, Sushiku ini. Setiap hari ada aja yang makan di situ. Kadang-kadang malah penuh. Padahal dari segi posisi, letaknya tidak bisa dibilang strategis banget. Dulu di ruko ini yang menyewa cabang Sate Padang ternama, tapi cuma 6 bulan, terus tutup. Gantinya restoran Jepang Sushiku ini dan bertahan hingga sekarang. Makanya kami penasaran ingin mencoba. Apa memang enak?